12 Januari 2010

Menikah atau Imam yang Selibat??.....

Bagaimana cara anda mencapai ke sekolah/tempat anda bekerja? Anda mungkin akan menanggapi pertanyaan ini dengan pelbagai macam jawaban beserta alasannya. Ada yang memilih jalan kaki, karena memang jarak yang dekat dari tempat tinggal. Ada pula yang memilih naik mobil, atau motor. Ada juga yang memilih naik bus transjakarta. Atau mungkin anda aktivis B2W, memilih untuk menggowes sepeda?? Yang jelas banyak jalan menuju Roma. Ada banyak sarana yang bisa kita pakai untuk mencapai ke satu tempat tujuan.

Selanjutnya lagi, saya akan bertanya kepada anda: apa tujuan anda hidup di dunia ini? ....... Simpan jawaban anda dulu sampai akhir tulisan ini, karena saya ingin sedikit bercerita tentang permenungan yang saya lakukan.

Dulu, sewaktu di seminari menengah dan awal-awal di seminari ada satu pertanyaan yang paling sulit saya jawab. Pertanyaan yang paling klise jika menyangkut diri seorang calon imam. “Mengapa anda mau menjadi imam?” Ya, pertanyaan itulah, yang seringkali malah membuat saya berpikir sendiri, mengapa ya saya mau menjadi imam? Padahal, pada awalnya saya tidak pernah berkeinginan untuk menjadi seorang pastor. Dulu, saya masuk seminari karena mau main orkestra. Setelah main orkestra saya terpenuhi, saya jadi bingung. Apa yang selanjutnya menjadi tujuan hidup saya. Apalagi setelah lulus seminari menengah, saya tidak lagi main orkestra. Setelah kurang lebih mengembara selama 12 tahun di dalam panggilan ini sejak seminari menengah akhirnya saya mengerti apa tujuan hidup saya. Saya hidup semata-mata hidup hanya untuk mencintai dan mengabdi Tuhan. Itulah tujuan hidup saya, dan tujuan hidup seluruh manusia di dunia ini. Dunia ini menawarkan beragam cara untuk mencapai tujuan itu. Tentu, yang paling jelas adalah dengan memilih agama. Agama bukan tujuan, tetapi hanyalah salah satu cara bagaimana kita sampai kepada Allah.

“Frat, jadi romo kan gak boleh menikah.” Ya jelas. Menikah atau menjadi imam yang selibat adalah juga sarana untuk menjadi tujuan itu. Nah, roh jahat menggoda manusia dengan mengaburkan apa yang menjadi tujuan hidup manusia dan sarana untuk mencapainya. Jika orang ditanya, apa yang menjadi goal dalam hidupnya? Kebanyakan biasanya menjawab, kekayaan, kedudukan terhormat, isteri cantik, suami yang tampan, keluarga yang bahagia, dan sebagainya. Padahal semua itu hanyalah sarana agar kita dapat semakin mencintai Tuhan. Jika anda masih menganggap menikah adalah tujuan hidup, saya kasihan kepada anda. Jika hal itu terjadi, setelah menikah, anda akan menganggap segalanya sudah selesai. Atau jika ternyata perkawinan anda tidak seindah yang dibayangkan sebelumnya, anda lalu menyesal setengah mati. Sama halnya jika saya hanya menganggap imamat sebagai tujuan hidup. Setelah jadi imam, berarti sudah selesai. Godaan akan semakin besar jika seorang tidak lagi bahagia dalam menjadi imamatnya. Dia akan dengan mudah lari ke tempat lain. Atau, hal-hal lain yang sebetulnya sifatnya hanya sarana tapi kita pandang hanya sebagai tujuan hidup. Bayangkan, jika semua tujuan hidup itu terpenuhi, anda mau berbuat apa setelah itu? Toh, saat anda meninggal semua hal itu ditinggalkan. Dan kita akan berhadapan one on one dengan Allah sendiri.

Menikah atau menjadi imam yang selibat? Bagi saya, kedua pilihan hidup serius ini sama-sama mulia, sejauh membantu manusia lebih mencintai Tuhan. Sekali memilih satu di antara keduanya, keputusan itu berlaku untuk selamanya. Dengan memilih menikah, ia diharapkan semakin mencintai Tuhan sebagaimana ia mencintai pasangan dan anak-anaknya. Pun juga dengan menjadi imam yang selibat, ia diharapkan lebih mencintai Tuhan dengan melayani Gereja-Nya. Maka, jika sekarang orang bertanya mengapa saya mau menjadi imam, saya akan menjawab: Bagi saya, dengan menjadi imam, saya terbantu untuk mengikuti Yesus dengan lebih dekat. Dengan selibat, saya terbantu untuk lebih mencintai Tuhan dengan lebih intim, bebas, dan tidak terikat. ^^

Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, unuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya. Latihan Rohani St. Ignatius no. 23. Asas dan dasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar