12 November 2009

My life begins at 22, when was yours?

Hidup adalah soal memilih cara pandang terhadap hal-hal yang tidak bisa kita pilih.

Suatu kali saya membaca sbuah buku tentang St. Paulus. Ada satu kalimat yang begitu inspiratif buat saya. Hidup Paulus yang sesungguhnya baru mulai pada usia 24 tahun. Persis saat ia mengalami penampakkan Kristus yang bangkit di Damsyik. Sebelumnya ia menjadi orang yang menghabisi orang-orang kristiani pada jaman dulu. Setelahnya, ia menjadi seorang kristiani yang justru memegang peranan penting dalam sejarah Kristianitas. Hidup selama 24 tahun pertamanya adalah sampah. Selama itu ia hidup tanpa roh dan penuh dengan kekeringan. Intinya, 24 tahun pertama itu adalah hidup Paulus untuk kepentingan diri sendiri, dan cukup! Setelah itu, sepanjang sisa hidupnya ia persembahkan untuk Allah. Bagi paulus, life begins at 24.

Membaca kalimat-kalimat itu spontan membuat saya bertanya-tanya. When i start to begin my life? Pada umur berapa saya mulai menghidupi hidup yang sebenarnya? Lalu, saya langsung teringat ketika saya pun juga mengalami titik balik dalam hidup seperti yang Paulus alami. Hal itu terjadi ketika saya menginjak akhir semester 6 saat masih kuliah filsafat. Saat itu saya berumur 22 tahun. Lebih spesifik lagi pada momen retret akhir tahun tingkat 3. Ketika itulah saya menyadari hal yang Paulus alami. Dalam retret kala itu, saya berefleksi lebih realistis dan menerima segala hidup saya apa adanya. Ya, menerima segala luka-luka dan sakit yang selama itu ada berkat pengalaman masa lalu. Saya tidak berusaha untuk menekan dan bersikap seolah-olah pengalaman itu tidak ada. Tetapi justru sebaliknya. Akhirnya semua bermuara pada cara kita memandang sesuatu. Terutama terhadap banyak hal-hal di dunia ini tidak bisa kita pilih. Atau bisa juga ketika karena sesuatu hal akhirnya membuat kita jatuh kepada pilihan yang salah. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dengan rupa seperti apa, lahir di keluarga siapa, dari orang tua siapa, dengan keadaan yang bagaimana, dan hal-hal lain yang terjadi begitu saja tanpa bisa kita atur. Pilihan yang bisa kita buat justru terletak pada cara kita memandang segala hal itu. Maka, kita bisa saja terus mengeluh terhadap keadaan, tidak puas, murung, dan selalu memaki-maki mengapa kehidupanku tidak sebaik orang lain. Tetapi, kita juga bisa memilih bersyukur atas keadaan itu.

Sejak saat itulah, pada umur yang ke-22 saya menyadari bahwa kini hidupku bukan lagi soal kepentingan diri sendiri. Bukan lagi soal mencari apa yang baik, apa yang enak, dan apa yang menyenangkan bagiku. Having fun melulu tanpa sebuah konsekuensi. Saat itu pula saya mengatakan cukup! Tidak mau lagi mencari kesenangan-kesenangan sesaat, santai dan sebagainya. Cukup! Dan selanjutnya hidupku kepersembahkan untuk Allah semata. Maka, pertanyaan yang sama saya lontarkan kepada anda yang membaca blog ini: My Life Begins at 22, when was yours?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar