21 Juni 2012

“LAYANI MEREKA, JANGAN LAYANI SAYA” Sebuah refleksi atas film “Soegija” “Layani mereka, jangan layani saya!” Dari banyak kalimat yang muncul di film “Soegija”, hanya kalimat tersebut yang menusuk hati saya. Kalimat ini muncul dalam adegan ketika masyarakat berbondong-bondong mengungsi di Gereja Mgr. Soegija. Di tengah banyaknya orang dan suasana kacau, para relawan yang kebingungan mendatangi Mgr. untuk menerima perintah apa yang harus dilakukan. Setelah memberikan arah dan hal-hal yang harus segera lakukan, Mgr. langsung menggerakan para relawan agar sigap melayani para pengungsi dan bukan melayani beliau. Bagi saya kata-kata ini cukup berkesan. Mgr. Soegija adalah uskup pribumi pertama Indonesia dan memang sudah sepantasnya harus dihormati dan dijunjung tinggi. Dalam situasi negara yang sedang carut marut karena perang, beliau sebetulnya bisa dan mampu untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan menggunakan segala privilese yang ia dapat karena jabatan uskupnya. Namun, beliau justru bersikap sebaliknya. Beliau meninggalkan kenyamanannya, turun dan menyapa masyarakat, rela menyerahkan gerejanya demi menampung para pengungsi. Di samping itu seamua, ia adalah seorang pemimpin yang tahu peran dan tugasnya sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi. Ia hadir ketika umat membutuhkan seorang pemberi arah. Beliau mengambil keputusan ketika para tetua masyarakat kebingungan. Beliau sigap dengan mengadakan diplomasi politik dengan pihak luar negeri, khususnya Vatikan. Kata-kata yang dilayangkan Soegija “Layani mereka, jangan layani saya!” dapat menjadi kritik bagi siapapun yang menjadi pemimpin di negeri ini. Adalah hal kodrati jika manusia berusaha mencari aman untuk dirinya sendiri. Tetapi jika kebablasan sikap seperti itu akan mematikan suara hati dan membangun tembok bagi diri sendiri. Lewat kata-kata ini, Soegija mau menekankan bahwa pemimpin adalah pelayan. Dalam Injil Matius 23:11, Yesus pun bersabda, “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”. ‘Besar’ di sini bisa dalam bentuk apapun. Saya juga meyakini bahwa jika kita diberi banyak, maka kita dituntut banyak pula. Soegija adalah sosok yang dengan sempurna melaksanakan perintah Yesus itu. Dan ini hendaknya berlaku pula bagi para pemimpin negeri, para ulama, para imam, rektor, dekan, bidel umum, ketua seksi dan para pemimpin dalam lingkup apapun. Pemimpin tidak cukup hanya bersikap diktator, hanya menunggu laporan kerja dari orang-orang bawahannya. Tetapi bagaimana kehadirannya dapat memberi harapan ketika situasi terasa tanpa harapan, mengambil keputusan dalam situasi kebingungan. Film ini menggambarkan bahwa Soegija mampu melakukan itu semua dengan sangat baik.

11 September 2011

Nongkrong Bareng Yesus

Separuh Jiwaku Pergi.. Begitu kata Anang waktu ia ditinggalkan oleh KD. Gw lantas bertanya-tanya sebegitu lemahkah manusia sehingga dia butuh seseorang untuk mengisi hatinya? Ataukah memang benar bahwa manusia selalu bersifat “separuh”, tidak benar-benar utuh sampai ia menemukan seorang sebagai pasangannya?

Pengalaman gw selama tahun orientasi pastoral beberapa kali membenarkan tesis tersebut. Kebanyakan manusia, khususnya orang muda tidak tahan seorang diri.

Di suatu malam gw pernah tiba-tiba di sms oleh seorang OMK (orang muda katolik). Dia ngajak buat pergi ke mall. Gw tanya apa tujuannya. Ia mengatakan bahwa ia bosan dan ingin jalan-jalan. Ia ingin pergi ke mall, mencari cafe dan sekedar nongkrong-nongkrong saja di sana. Gw lantas mengiyakan usulannya itu. Lalu, setelah menjemput beberapa teman yang lain pergilah kami ke mall yang tak jauh dari paroki.



Sesampainya di sana, Gw malah bingung dan bertanya-tanya dalam hati. Apa yang mereka lakukan setelah sampai di café hanya sekedar membunuh waktu dengan duduk bersama, minum kopi, membuka laptop sambil bercerita kisah-kisah hidup mereka. Sekali lagi, sepertinya manusia butuh kehadiran sesuatu/seseorang untuk mengisi separuh jiwanya yang kosong.

Sebagai seorang beriman katolik sebenarnya sah-sah saja kita nongkrong, kongkow2 di café, mall atau manapun. Hanya sekedar minum kopi, duduk, bercerita dan sebagainya. Tapi, hal itu tidak jadi jaminan akan membuat jiwa seseorang penuh. Apakah selalu ada teman yang selalu bersedia setiap waktu ketika kita ajak pergi nongkrong? Ada kalo memang ia tidak ada pekerjaan. Tapi kalo udah sibuk, mmm.. jangan harap.

Padahal ada satu orang yang selalu menunggu setiap waktu untuk kita kunjungi. Yakni Yesus dalam sakramen mahakudus. Pengalaman ber-adorasi kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus membuat gw yakin adorasi adalah cara yang paling baik untuk mengisi separuh jiwa yang hilang. Apalagi bagi mereka yang hidup selibat seperti gw ini hehehehe.



Gw sering mendengar bahwa orang kebingungan untuk berdoa apa di depan Sakramen. Tidak perlu bingung. Sekedar duduk, diam dan menatap Sakramen pun dapat menjadi sebuah doa. Dan artinya sangat besar. Adorasi adalah saat2 kita nongkrong bareng Yesus...
Memang kita tidak akan langsung merasakan dampaknya. Namun, percayalah, orang yang pertama-tama melihat dampaknya bukan diri kita, melainkan orang-orang di sekitar kita. Tidak percaya? Cobalah…..


Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Mat 26:40)